Kamis, 22 Maret 2012

Obrolan di Teras Pesantren Putri Darul Qur’an

“Pah, kenapa sich ada orang Sirik, Dengki dan Suka ngadu ? Njilat gitu ….” Meluncur deras pertanyaan anak perempuanku yang sedang belajar di tahun pertama program Idaad Pesantren Putri Darul Qur’an pimpinan ustad Yusuf Mansyur.
“Memangnya kenapa ?”, tanyaku ganti bertanya sebelum menjawab pertanyaannya , “Memangnya teman kaka’ ada yang seperti itu ?”, aku lanjutkan pertanyaanku memancingnya untuk bercerita lebih detail lagi.
“Sebel dech pa, di Hujrohku ada anak yang bernama Mawar, nach dia ini suka sekali ngadu-ngadu, mata-matain gitu  ….”, mulai dia bercerita dengan mimik muka yang keliatan sekali kesel.
“Ngadu-ngadu mengenai apa  ?, kesiapa ?, trus apa sich yang dimata-matain ?”, tanyaku balik bertanya dengan beberapa pertanyaan biar lebih detail lagi ia bercerita.
“Gini loch Pah, kemarin tuch ada kejadian, dikamar mandi ada ember yang pecah tapi punya anak dari hujroh lain, yang mecahin nggak tau, tapi ember bekas pecahnya ditaruhnya di kamar mandi yang biasa digunakan ama aku dan temen-temen se hujrohku mandi, nach anak yang punya ini nangis soalnya dia mau nyuci nggak ada embernya trus dia nanya-nanya siapa yang mecahin ?, trus nuduh yang mecahin pasti yang biasanya mandi di kamar mandi situ soalnya ember pecah bekasnya disitu …..”
“Khan temen-temenku nggak terima Pah, trus mereka ngajakin aku kekamar mandi, ngeliat gitu …, sampai disana ech ternyata  embernya  pecah banget, kayaknya ada yang make isinya penuh trus nggak kuat ngangkat jatuh, makanya pecah dibawahnya pa ….”, nyerocos anakku bercerita
“Lach, terus emangnya setelah kaka’ kesana kaka’ ngapain ?, selesai masalahnya ?”, tanyaku ke dia pingin tau apa yang dilakukannya.
“Ya selesai lach….., khan aku kasihan, trus aku ngomong : Ya udach pake emberku ini aja, ntar aku minjem temen yang lain dulu, jawabku begitu”. “Makanya pah, sekarang aku beliin ember lagi heheheeeee” sambil nyengir dia ngomong begitu.

Perlahan aku tarik nafas sambil tersenyum trus aku lanjutkan dengan bertanya, “Trus hubungannya apa dengan orang sirik, dengki dan suka ngadu-ngadu tadi ?” 
“Nach temenku Mawar itu, khan nggak tau kejadiannya gimana, dia cuma dengerin pas temen-temen cerita trus dia lapor ke ustadzah, kayaknya ustadzah ngira aku yang mecahin dech, soalnya kock pandangannya gimana gitu”
“Lach emangnya kaka’ tahu kalo Mawar yang lapor ke ustadzah, khan kaka’ justru yang beresin ?” saya bertanya balik
“Ya tau lach, dulu dach pernah ada kejadiannya kock”
“Aku sedang ngomongin mau bikin baju gamis kembar modelnya seperti yang dibuatin mama, malah temen-temenku minta dijadiin kado ulang tahunku aja, tau-tau besoknya dia nanya :’Zista ustadzah nanya, anti bikin baju gamis kaya gitu biayanya berapa, bikinnya dimana, yang buat modelnya siapa ?’”
“Aku khan bingung Pah, trus aku balik nanya, ‘Loch ustadzah kock tau kalo kita mau bikin gamis samaan ?’, dia ngomong kalo dia yang cerita, nach dari situ aku tau pah berarti dia mata-matain kita kalo di hujroh, makannya kadang-kadang ustadzah nyindir-nyindir gitu kalo ngomong keadaan di hujroh” keliatan sekali kalo agak sebel ekspresi mukanya.

Waduch, dalam hati aku mulai deg-degan dan ngedumel sendiri ternyata di Pesantrenpun ada juga orang-orang berkarakter penjilat walaupun nggak jelas tujuannya apa.
Kalo dikehidupan luar khan jelas gimana perilaku orang-orang yang mempunyai ambisi besar dengan orang yang ambisinya biasa-biasa saja – Astaqfirullah

Perlahan aku bicara, “Biasa itu Ka’ ntar Kaka’ kalo pas udach lulus dari Pesantren bakal nemuin orang-orang model kaya’ gitu, tapi mereka lebih jahat lagi”  jelasku, “Kaka’ yang sabar aja nemuin temen yang kaya’ gitu ntar dia tau sendiri kock kualitas kaka’ seperti apa, biasanya dia seperti itu karena dia iri sama kaka’ ” panjang aku menjelaskannya
“Memangnya Kaka’ jadi apa sich di hujroh ?, kock sampai segitunya temen kaka’ ?” tanyaku.
“Aku nggak jadi apa-apa sich Pah, dia sama aku sama yang lain sama aja, cuma temen-temen itu kalo ada apa-apa senengnya curhat sama aku trus aku nggak pelit, kalo aku ada makanan nggak usah minta aku tawarin temen-temenku, malah pernah beli makanan dimakan berlima hahahahahaha” , sambil ketawa ngakak dia bercerita “Soalnya semua uang jajannya sudah abis, pada nungguin kiriman lagi” lanjutnya bercerita, “Terus aku nggak tau kenapa temen-temen itu sering bantuin aku, kalo pas abis makan mau cuci piring gitu tau-tau ada yang nawarin “Zista mana aku cuciin piring anti”, sambil bercerita dia tertawa hehehehehe.
“Ya… itu Ka’ yang bikin temen kaka’ iri” jelasku, “Tapi aku khan nggak ngapa-ngapain Pah, aku juga nggak minta temen-temen seperti itu ke aku, masa’ aku sich yang disalahin ?” protesnya.
“Nggak ada yang nyalahin kaka’, temen kaka’ itu iri karena kaka’ banyak temennya, trus disayang ama temen-temen yang lain, kenapa dia nggak bisa seperti kaka’ “ begitu jelasku.

“Trus Pah, aku sebel dech ama ukhti Bunga“,  tau–tau dia bercerita begitu sambil menangis emosional.
“Loch kenapa Ka’ ?”, tanyaku penasaran
“Jahat banget dech ukhti Bunga itu, masa’ dia ngelarang-ngelarang Tia, Dinda, Syifa deketan dan ngobrol sama aku”, “Emangnya aku salah apa, padahal aku juga jarang ngobrol deket sama ukhti Bunga” sambil nangis dia bercerita seperti itu.
“Masa’ Pah, dia ngomong gini coba : “Ngapain kamu temenan ama Zista ?, memangnya dia punya hafalan ?, kalo nggak punya hafalan nggak usah ditemenin aja”, kan nggak pantes pah dia ngomong seperti itu, padahal kan dia ukhti harusnya dia jadi penengah dong, kock malah ngelarang-ngelarang gitu…..” sambil nangis sewot dia bercerita.

Sambil tersenyum kecut aku ngomong ama anakku, “Ka’ kamu sudah punya hafalan belum ?”, “Ya sudah lach, memangnya punya hafalan apa nggak,  urusannya dia apa ?” masih sewot dia menjawab
“Banyak nggak hafalannya ? apa aja ? Al Waqiah, Yassin, Ar Rahman atau Al Mulk ?” tanyaku lebih lanjut, “Belum sebanyak itu sich, emang masih beberapa ayat aja….” mulai berkurang isakan tangisnya.
“Kaka’, kaka’ disini ada target untuk menghafal, kalo kaka’ nggak punya hafalan kaka’ akan tertinggal sama temen-temen kaka’” hati-hati aku menjelaskannya takut dia tersinggung.
“Mungkin maksudnya ukhti Bunga baik, biar kaka’ nggak ketinggalan sama temen-temen, terus supaya kaka’ bisa diajak masuk jadi temennya ukhti Bunga yang banyak hafalannya, tapi emang nggak perlu sampai segitunya sich…..” aku menjelaskan sambil mengarahkan dengan hati-hati. Akhirnya dia kembali seperti semula udach nggak nangis lagi.

Sepulang dari menjenguk anakku di pesantren, diperjalanan aku menerawang jauh.
Kira-kira di tempat kerjaku yang sekarang ini ada nggak yach orang yang seperti Mawar dan Bunga, Menguping pembicaraan bahkan mencari tahu kegiatan kita untuk disampaikan ke atasan dengan tendensi bahwa dia menjadi lebih deket dengan atasan atau iri karena tidak menjadi informal leader atau bahkan sengaja ingin menjatuhkan dengan mencari-cari kelemahan kita. Dan melarang orang lain bergaul dengan kita dengan membuat koloni-koloni kecil yang seirama, sejenis bahkan se Genre sebagai bentuk dari penolakan atas kehadiran kita atau takut tersaingi.
Wallahualam bi showab…………….   

Jumat, 16 Maret 2012

Kisah Pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah (10 Bagian)

Dijamin Masuk Syurga (Bagian 9)
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang dihantar Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata: “Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita.
“Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tetamu dan menghulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.
Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT yang dihantar oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW disertai salam dari Jibril a.s, pribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas, Nabi SAW pernah berkata:
“Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW, Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Wanita Terbaik (Bagian 10)
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW terhadap pribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam bimbang keingkaran; dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak kudapatkan dari isteri-isteri yang lain”.
Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dibangsakan sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW. (End)

Kisah Pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah (10 Bagian)

Khadijah Menawarkan Diri (Bagian 6)
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” Suaranya ramah, bernada dermawan.
Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya, Muhammad berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Katanya: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”. Kepalanya tertunduk dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban.
“Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,” kata Khadijah r.a. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”. Ia berhenti sejenak, meneliti. Kemudian meneruskan dengan tekanan suara dan mengandung isyarat: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diingini oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”. Khadijah tertunduk lalu melanjutkan: “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa mau dijawab.
Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Ia minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada pamannnya: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim.
Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah: “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.
“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah dimaklumi oleh anak pamanmu Waraqah bin Naufah?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah r.a.
“Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad lebih dahulu.”

Janda Cantik Bermata Jeli (Bagian 7)
Sebelum dijemput bermusyawarah oleh pamannya, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan pribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
“Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
“Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
“Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berjaya. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW.
Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan utamanya pula karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya.
Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang berhati baik, cantik, dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu. Hadir juga Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempo untuk berunding dengan wanita berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah (Bagian 8)
Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak pamanku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah.
“Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawanan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jumat, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad, sedang Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut:
“Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.
“Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscayalah ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah sama mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”.
Penyambutan untuk memeriahkan majelis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau ridhai!”
Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita. (to be continued)

Kisah Pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah (10 Bagian)

Paderi-paderi Yahudi Gemetar Ketakutan (Bagian 4)
Pasar dibuka beberapa hari lamanya. Berkat Muhammad Al-Amin, Semua jualan laris dengan keuntungan berlipat ganda, mengatasi pengalaman yang sudah-sudah. Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan hari raya Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran.
Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gemetar ketakutan.
Seorang di antara mereka bertanya: “Alamat apakah ini?” Semuanya heran, cemas dan ketakutan.
“Ini berarti ada orang asing yang hadir di sini,” jawab pengurus upacara. “Kita baca dalam Taurat bahwa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi. Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!”
Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil, dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.
Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang-orang Yahudi.

 Muhammad Pulang Ke Makkah (Bagian 5)
Biasanya dalam perjalanan pulang, kira-kira jarak tujuh hari lagi mendekati Makkah, Maisarah mengirim seorang utusan kepada Khadijah r.a, memberitahukan bakal kedatangan kafilah serta perkara-perkara lain yang menyangkut perjalanan.
Maisarah menawarkan kepada Muhammad SAW: “Apakah engkau bersedia diutus membawa berita ke Makkah?” Muhammad SAW berkata: “Ya, saya bersedia apabila ditugaskan”.
Pemimpin rombongan mempersiapkan unta yang cepat untuk dinaiki oleh utusan yang akan berangkat terlebih dahulu ke kota Makkah. Ia pun menulis sepucuk surat memberikan kepada majikannya bahwa perniagaan kafilah yang disertai Muhammad SAW mendapat hasil laba yang sangat memuaskan, dan menceritakan pula tentang pengalaman-pengalaman aneh yang berkaitan dengan diri Muhammad SAW.
Tatkala Muhammad SAW menuntun untanya dan sudah hilang dari pandangan mata, maka Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s. :
“Hai Jibril, singkatkanlah bumi di bawah kaki-kaki unta Muhammad SAW! Hai Israfil, jagalah ia dari sebelah kanannya! Hai Mikail, jagalah ia dari sebelah kirinya! Hai awan, teduhilah ia di atas kepalanya!”
Kemudian Allah SWT mendatangkan ngantuk kepadanya sehingga baginda SAW tertidur nyenyak dan tiba-tiba telah sampai di Makkah dalam tempo yang cukup singkat. Saat terbangun, ia heran mendapati dirinya telah berada di pintu masuk kota kelahirannya. Baginda SAW sadar bahwa ini adalah mukjizat Tuhan kepadanya, lalu bersyukur memuji Zat Yang Maha Kuasa.
Sementara baginda SAW mengarahkan untanya menuju ke tempat Khadijah r.a, secara kebetulan Khadijah r.a pada saat itu sedang duduk sambil kepalanya keluar jendela memandangi jalan ke arah Syam, tiba-tiba dilihatnya Muhammad SAW di atas untanya dari arah bertentangan di bawah naungan awan yang bergerak perlahan-lahan di atas kepalanya.
Khadijah r.a menajamkan matanya, bimbang kalau-kalau tertipu oleh penglihatannya, sebab yang dilihatnya hanyalah Muhammad SAW sendirian tanpa rombongan, padahal telah dipesannya kepada Maisarah agar menjaganya sebaik-baiknya. Ia bertanya kepada wanita-wanita sahayanya yang duduk di sekitarnya: “Apakah kamu mengenali siapa pengendara yang datang itu?” sambil tangannya menunjuk ke arah jalan.
Seorang di antara mereka menjawab: “Seolah-olah Muhammad Al-Amiin, ya sayyidati!”
Kegembiraan Khadijah r.a terlukis dalam ucapannya: “Kalau benar Muhammad Al-Amiin, maka kamu akan kumerdekakan bilamana ia telah sampai!”
Tak lama kemudian muncullah Muhammad SAW di depan pintu rumah wanita hartawan itu, yang langsung menyambutnya dengan tutur sapa tulus ikhlas: “Kuberikan anda unta pilihan, tunggangan khusus dengan apa yang ada di atasnya.”
Muhammad SAW mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan surat dari ketua rombongan. Ia minta izin pulang ke rumah bapa saudaranya setelah melaporkan tentang perniagaan mereka ke luar negeri. (To be Continued..)

Kisah Pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah (10 Bagian)

Nabi Muhammad Berniaga (Bagian 2)
Muhammad, bakal suami wanita hartawan itu, adalah seorang yatim piatu yang miskin sejak kecilnya, dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, yang hidupnya pun serba kekurangan. Meskipun demikian, pamannya amat sayang kepadanya, menganggapnya seperti anak kandung sendiri, mendidik dan mengasuhnya sebaik-baiknya dengan adab, tingkah laku dan budi pekerti yang terpuji.
Pada suatu ketika, Abu Thalib berbincang-bincang dengan saudara perempuannya bernama ‘Atiqah mengenai diri Muhammad. Beliau berkata: “Muhammad sudah pemuda dua puluh empat tahun. Semestinyalah sudah kawin. Tapi kita tak mampu mengadakan perbelanjaan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.”
Setelah memikirkan segala ikhtiar, ‘Atiqah pun berkata: “Saudaraku, saya mendengar berita bahwa Khadijah akan memberangkatkan kafilah niaga ke negeri Syam dalam waktu dekat ini. Siapa yang berhubungan dengannya biasanya rezekinya bagus, diberkati Allah SWT. Bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya? Saya kira inilah jalan untuk memperolehi nafkah, kemudian dicarikan isterinya.”
Abu Thalib menyetujui saranan saudara perempuannya. Dirundingkan dengan Muhammad, ia pun tidak keberatan.
‘Atiqah mendatangi wanita hartawan itu, melamar pekerjaan bagi Muhammad, agar kiranya dapat diikut sertakan dalam kafilah niaga ke negeri Syam.
Khadijah, tatkala mendengar nama “Muhammad”, ia berfikir dalam hatinya: “Oh… inilah takbir mimpiku sebagaimana yang dita'wilkan oleh Waraqah bin Naufal, bahwa ia dari suku Quraisy dan dari keluarga Bani Hasyim, dan namanya Muhammad, orang terpuji, berbudi pekerti tinggi dan nabi akhir zaman.”
Seketika itu juga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk bersuamikan Muhammad, tetapi tidak dilahirkannya kerana khawatir akan fitnah.
“Baiklah,” ujar Khadijah kepada ‘Atiqah, “saya terima Muhammad dan saya berterima kasih atas kesediaannya. Semoga Allah SWT melimpahkan berkatnya atas kita bersama.”. Wajah Khadijah cerah, tersenyum sopan, menyembunyikan apa yang tersudut di kalbunya.
Kemudian ia meneruskan: “Wahai ‘Atiqah, saya tempatkan setiap orang dalam rombongan niaga dengan penghasilan tinggi, dan bagi Muhammad SAW akan diberikan lebih tinggi dari biasanya.”
‘Atiqah berterima kasih, ia pulang dengan perasaan gembira menemui saudaranya, menceritakan kepadanya hasil perundingannya dengan wanita hartawan dan budiman itu.
Abu Thalib menyambutnya dengan gembira. Kedua bersaudara itu memanggil Muhammad SAW seraya berkata: “Pergilah ananda kepada Khadijah r.a, ia menerima engkau sebagai pekerjanya. Kerjakanlah tugasmu sebaik-baiknya.”
Muhammad SAW menuju ke rumah wanita pengusaha itu. Sementara akan keluar dari pekarangan rumah bapa saudaranya, tiba-tibalah ia mencucurkan air mata kesedihan mengenang nasibnya. Tiada yang menyaksikannya dan menyertainya dalam kesedihan hati itu selain para malaikat langit dan bumi. 


Kesaksian Seorang Rahib - Tanda Kenabian Muhammad SAW (Bagian 3)
Tatkala kafilah niaga itu siap akan berangkat, berkatalah Maisarah, kepala rombongan: “Hai Muhammad, pakailah baju bulu itu, dan peganglah bendera kafilah. Engkau berjalan di depan, menuju ke negeri Syam!”
Muhammad SAW melaksanakan perintah. Setelah iring-iringan keluar dari halaman memasuki jalan raya, tanpa sadar Muhammad SAW menangis kembali, tiada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya.
Dari mulutnya terucap suara kecil: “Aduhai nasib! Mana gerangan ayahku Abdullah, mana gerangan ibuku Aminah. Kiranyalah mereka menyaksikan nasib anandanya yang miskin yatim piatu ini, yang justru lantaran ketiadaannyalah sehingga terbawa jadi buruh upahan ke negeri jauh. Aku tidak tahu apakah aku masih akan kembali lagi ke negeri ini, tanah tumpah darahku.”
Jeritan batin itu membuat para malaikat langit bersedih. Mereka memintakan rahmat baginya. Maisarah memperlakukan Muhammad SAW dengan agak istimewa, sesuai dengan wasiat Khadijah. Diberinya pakaian terhormat, kendaraan unta yang tangkas dengan segala perlengkapannya.
Perjalanan mengambil waktu beberapa hari. Terik matahari begitu panas sekali. Tetapi Muhammad SAW berjalan senantiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti disebuah peristirahatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani.
Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh.
Rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia terheran-heran melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa arti tanda itu karena pernah dibacanya di dalam Kitab Taurat.
Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasati siapa pemilik karamah dari kalangan mereka.
Semua anggota rombongan hadir dalam majelis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang-barang dan kendaraan. Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau: “Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini?”
Maisarah menjawab: “Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang.”
Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majelis perjamuan.
Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan.
Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.
Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW, bertanya: “Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?”
“Dari Makkah”.
“Dari qabilah mana?” tanya sang Rahib.
“Dari Quraisy, tuan!”
“Dari keluarga siapa?”
“Keluarga Bani Hasyim.”
‘Siapa namamu?”
“Namaku, Muhammad.”
Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan: “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadar Rasulullah.”
Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub, seraya bertanya: “Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?”
“Tanda apakah yang tuan maksudkan?” tanya Muhammad SAW.
“Silakan buka bajumu supaya kulihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!”
Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan.
“Ya….ya….tertolong, tertolong!” seru Rahib. “Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!”
Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan: “Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa’at di akhirat, hai pribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai Nabi rahmat bagi seluruh alam!”
Dengan pengakuan demikian itu, Rahib dari Ahlu-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW dengan resmi menerima wahyu kerasulan dari langit. (to be continued)

Kisah Pernikahan Rasulullah dan Siti Khadijah (10 Bagian)

Bermimpi Matahari Turun Kerumahnya (Bagian : 1)
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa  Arab pada umumnya.
Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke semua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang tak luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahawa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.
“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.
“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.
Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya.
Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin

Kamis, 15 Maret 2012

6 Tanda Berselingkuh Hati

Jakarta - Menyukai pria lain saat masih menjalin asmara dengan kekasih bisa saja dialami semua orang, termasuk Anda. Hal tersebut sering diartikan sebagai selingkuh hati, yaitu perasaan lain yang mulai ada di hati kita kepada lawan jenis setelah mempunyai komitmen dalam sebuah hubungan. Ketahui tanda-tanda Anda telah berselingkuh hati seperti dilansir Madame Noire, dan bagaimana mengatasi kegalauan perasaan itu. 1. Anda Membenci Kekasih Si Teman Setiap kali teman pria Anda curhat soal wanita yang telah dikencaninya, Anda melihatnya sebagai pertanda buruk. Jika dia membawa seorang wanita saat hang out, Anda tidak ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang diajaknya itu. Semua yang dilakukan kekasih si teman membuat Anda terganggu meskipun Anda sadar sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dia perbuat. 2. Anda 'Melihat' Teman Pria Dimana-mana Bukan melihat fisik yang sebenarnya, tapi ketika Anda berbelanja, Anda tiba-tiba ingat barang yang dia perlukan dan berniat membelikannya. Saat makan di restoran, Anda tiba-tiba teringat makanan kesukaannya dan berpikir apakah perlu membelikannya makanan tersebut untuk dibawa pulang. Saat menyukai seseorang, kita biasanya cenderung mengingat dia dimanapun dan selalu ingin berbuat sesuatu yang bisa membantu atau menyenangkan hatinya. Perasaan tersebut tentu saja bagus jika ditujukan untuk kekasih Anda, tapi bukan teman. 3. Curhat Masalah Pribadi Anda tak sungkan membicarakan masalah keluarga, krisis kepribadian yang sedang dialami, mimpi-mimpi atau rasa gundah gulana kepada pria lain. Sebenarnya tidak masalah jika kita ingin curhat masalah pribadi kepada teman pria. Tapi jika Anda merasa lebih nyaman membicarakan semua masalah kepada pria tersebut dibandingkan kekasih sendiri, maka itu bisa menjadi tanda Anda telah berselingkuh hati. 4. Mengeluhkan Kekasih Anda pada Si Teman Wajar saja bila sesekali Anda ingin curhat masalah asmara kepada teman. Tapi jika setiap kali bertengkar Anda selalu membicarakannya hanya dengan satu teman pria, maka Anda telah memposisikan dia sebagai seseorang yang spesial dan --mungkin-- secara tidak sadar Anda ingin memberi 'sinyal' bahwa hubungan dengan kekasih tidak berjalan baik. Anda berharap, sinyal tersebut dapat mendorong dia untuk mendekati Anda. 5. Mencari-cari Alasan Setiap kali ingin pergi untuk bertemu pria lain, Anda seperti harus mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Misalnya, "Dia baru saja putus cinta, jadi dia perlu orang untuk menemani," atau "Kami bertemu hanya untuk merayakan promosi jabatan barunya." Baik itu Anda katakan kepada diri sendiri atau kekasih, hal tersebut merupakan tanda ada pria lain yang telah memasuki hati Anda. 6. Selalu Ingin Mengesankan Dia Saat mengadakan pesta, orang yang Anda harapkan bisa terhibur adalah teman pria tersebut. Ketika semua teman mencicipi kue yang Anda buat, ekspresi yang pertama kali Anda lihat adalah dirinya. Jika teman pria yang Anda suka itu duduk sendirian tanpa melakukan apapun, Anda pun langsung bertanya apa yang dia perlukan. Intinya, dia selalu ada dalam 'radar' Anda dan Anda ingin selalu membuatnya terkesan dengan perlakuan baik. Jika Anda merasakan enam tanda tersebut, ada kemungkinan besar Anda telah selingkuh hati baik itu disadari maupun tidak. Kini pilihan ada di tangan Anda, ingin menghilangkan rasa suka itu dan tetap setiap pada kekasih atau mengakhiri hubungan? Jika memilih yang kedua, harus siap dengan segala konsekuensinya, karena belum tentu pria lain yang sudah membuat Anda berselingkuh hati itu memiliki perasaan yang sama terhadap Anda. Tapi bila hubungan dengan kekasih lebih penting bagi Anda, segera atasi dengan melakukan beberapa

Sabtu, 13 Agustus 2011

Sedekah yang Dibayar Tunai

Kisah keajaiban sedekah ini terjadi belum lama, tepatnya Selasa 14 Juni 2011
Bermula dari kami terimanya undangan Silahturahhim Akbar untuk orang tua / wali calon santri pesantren Darul Qur’an pimpinan Ust Yusuf Mansur di masjid At - Tin TMII
Hari itu, kami merencanakan untuk menghadirinya bersama dengan keluarga dan keluarga kakak ipar. Karena acara digelar di hari kerja, saya dan istri mengajukan ijin pulang cepat sebelum jam kantor selesai dan merencanakan untuk mengikuti pengajian ba’da Maghrib disambung ke Isya’ yang dilanjutkan mabit dan Sholat Tahajut bersama karena acara Silahturahhim Akbar ini dimulai sejak ba’da Dhuhur.
Karena jarak masjid At - Tin yang cukup jauh dari rumah serta banyaknya anggota keluarga yang turut serta, kami menyewa mobil secara harian agar lebih leluasa waktunya.
Dan, kami sampai di masjid At Tin terlambat dari yang direncanakan, kami baru sampai ketika sudah menjelang sholat Isya’ sehingga Cuma dapat akhir dari ceramah Ust Yusuf Mansur.
Ba’da sholat isya’ berjama’ah tibalah saatnya para jamaah diberikan kesempatan untuk berjabat tangan dengan beliau serta memberikan sedekah terbaik untuk pembangunan gedung asrama santri dan beasiswa untuk para santri Tahfiz Qur’an pesantren Darul Qur’an.
Ternyata untuk bisa bersalaman dengan beliau perlu ngantri yang cukup panjang dan berdesakan namun beliau tetap sabar menerima salaman dari para jama’ah, akhirnya tibalah giliran saya, segera saya keluarkan amplop dari kantong celana yang isinya tidak seberapa, dengan berbisik ketelinga beliau sambil  bersalaman saya sampaikan pada beliau mohon dapat di do’akan agar anak-anak kami menjadi Tahfiz Qur’an, beliau berkata “Amin, Insya Allah…..”
Sampai disini masih belum ada kejadian atau sesuatu yang luar biasa untuk diceritakan sampai akhirnya kami pulang dan transit makan malam di food Court sektor 9 Bintaro.
Rabu 15 Juni 2011, pagi kami beraktifitas kembali seperti biasa sampai akhirnya saya sampai di kantor dan memulai bekerja.
Dan, keajaiban dimulai dari tempat saya bekerja. Seperti biasa setiap kali sampai dikantor hal pertama yang saya lakukan adalah menghidupkan computer dan langsung melakukan Send and Receive email, betapa terkejutnya saya ketika di email saya ada notifikasi internet banking telah terjadi mutasi kredit ke rekening tabungan saya.
Langsung saja saya cek email notifikasi tersebut, ternyata telah masuk ke rekening tabungan saya transaksi Sumbangan Perumahan yang telah saya ajukan atas kepindahan saya kembali ke daerah asal, setelah kemarin selama 12 bulan saya dimutasikan keluar daerah, Cirebon dan Samarinda.
Segera saya mengucap syukur Alhamdulillah pada Allah SWT atas rizky ini, mengingat saya telah mengajukan permohonan sejak bulan April 2011 dan baru disetujui oleh management serta di transfer di bulan Juni 2011.
Sesaat saya tertegun dan seolah ada yang mengingatkan, perhatikan email notifikasi tersebut. Langsung saya perhatikan – Subhanallah ……………..
Email notifikasi tersebut masuk ke email saya jam 20.14 wib dan proses transfer sukses masuk ke rekening saya pada 19.40 wib. – Masya Allah ……..
Berarti transaksi tersebut terjadi pada saat saya sedang berdesakan antri untuk bersalaman dan menyerahkan sedekah, yang menurut kami itu sedekah terbaik yang kami punya – Subhanallah…..
Tanpa terasa mengalir air mata ini dan tergetar hati saya, ya Allah ya Rabb terima kasih atas nikmat yang telah kau berikan. Tak ada sedikitpun keraguanku atas – MU

Tangerang, 26 Juli 2011

Sabtu, 30 Juli 2011

NASI PADANG PEDAGANG KUE BASAH

Malam itu, ba’da sholat Isya’ beberapa pengurus DKM masjid Al Muhajirin di komplek perumahan sedang berkumpul dan didapat khabar kalau marbot masjid sedang sakit, selintas yang saya dengar sakitnya terkait dengan lambung.
Sesampai dirumah kabar tersebut langsung saya sampaikan ke Istri saya, singkat cerita kabar tersebutpun sampai ke telinga bu Ira kakak dari istri yang kebetulan tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah kami.
Bu Soelarsih yang biasa dipanggil bu Ira ini istri dari Ferry Sudiono adalah salah satu korban dari bencana Lumpur Lapindo, setahun setelah musibah bencana lumpur lapindo mereka sekeluarga pindah ke Jakarta untuk memulai dan menata kehidupan baru setelah semua apa yang dimiliki hanya bisa diselamatkan sebagian.
Dengan berbekal keahlian dalam hal masak-memasak  bu Ira mencoba peruntungan dengan membuat kue-kue basah dan dijual dengan etalase di pojokan pintu masuk perumahan Graha Pondok Jagung 1.
Kisah ini berawal ketika setelah mendengar kabar marbot masjid sakit yang berhubungan dengan lambung dikarena terlambat makan, malam itu ia mengajak suaminya untuk makan diwarung padang yang ada didaerah Graha Bintaro, “Pa, makan di nasi Padang yuk, sekalian beli buat pak Marbot kasian…..” ajaknya ke suaminya.
Nach, disinilah keajaiban mulai terjadi, saat mereka menikmati makan malam nasi padangnya tiba-tiba hand phone bu Ira berdering, saat diangkat ternyata adalah orang yang mau memesan kue kotak guna hajatan sebanyak 800 kotak – Subhanallah, padahal belum lagi nasi padang dipesan tetapi order kue basah sudah diterima.
Setelah ngobrol seperlunya dan janjian untuk ketemu dirumah membicarakan menu isi kotakan bu Ira melanjutkan makannya, sampai disini bu Ira masih belum merasa kalo telah terjadi keajaiban dari rencana untuk bersedekah makanan.
Saat makanan yang disantap sudah hampir habis, bu Ira memesan 2 bungkus nasi Padang yang akan dibawa pulang, keajaiban yang kedua terjadi beberapa saat kemudian hand phone yang dipegangnya berdering kembali, saat diangkat ternyata salah satu pelanggan yang selama ini sudah sering memesan kue melakukan order pemesanan 2 buah Tumpeng untuk hari yang berbeda dari penelepon yang pertama tadi, Subhanallah ………
Belum selesai sampai disini, sesampai dirumah segera bu Ira menyuruh anaknya untuk mengirimkan 2 bungkus nasi padang buat pak Marbot bersama istrinya. Bersamaan dengan anaknya berangkat mengirimkan nasi bungkus ada tamu yang datang untuk melakukan order pemesanan kue sebanyak 50 kotak, Subhanallah ……
Maha benar Allah dengan segala Janji-NYA seperti yang telah disampaikan dalam Al Qur’an Surat Al-Hadiid : 11 “Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia” , hanya nasi Padang 2 bungkus senilai tidak lebih dari Rp.25.000,- tetapi telah diganti berpuluh-puluh kali lipat, Tiga order dalam hitungan jam dihari yang sama.   

Tangerang, 26 Juli 2011   

KEAJAIBAN SEDEKAH DI PAGI HARI

Pagi itu seusai sholat Shubuh berjama’ah saya ngobrol santai dengan Pak AB, tetangga saya ini seorang Manager Engineering di salah satu gedung apartemen yang cukup terkenal di Jl Sudirman, Jakarta di kalangan sesama pengurus DKM masjid Al Muhajirin Graha Pondok Jagung 1 beliau terkenal dekat dengan anak-anak dan remaja karena aktifitasnya sebagai koordinator marawis.
“Pak, saya punya pengalaman yang cukup menarik untuk disimak sebagai iktibar” demikian Pak AB memulai perbincangan.
“Apa itu pak ?” tanya saya penuh penasaran.
“Tapi jangan dianggap ini sebagai sesuatu yang saya sombongkan yach ?” sambil tersenyum dia berkata, takut kalo cerita ini dianggap sebagai sesuatu yang riya’.
“Nggak lach pak, Insya Allah cerita ini akan menjadi iktibar bagi saya dan orang lain” jawab saya meyakinkan beliau bahwa berbagi pengalaman bukan untuk riya’ tapi justru bisa menjadi contoh.
“Seminggu yang lalu …..” Pak AB memulai ceritanya dengan serius saya pun mencoba menyimak dengan seksama.
“Saya sedang dikirim sama perusahaan mengikuti seminar tentang Hospitally yang diadakan oleh suatu EO yang cukup ternama, nach di hari terakhir seminar yang saya ikuti ada keajaiban pak ….” sesaat Pak AB memenggal ceritanya.
“Pagi, sebelum saya berangkat saat saya mengeluarkan motor, saya melihat ada ibu-ibu tua yang biasanya kalo pagi dia mengais sampah didepan rumah kita mencari kardus, kayu atau yang lainnya, tiba-tiba saya tergerak mengeluarkan dompet untuk memberinya”
“Nach, begitu saya buka ada beberapa pilihan warna di dompet saya, pastinya saya nggak memilih yang warna merah pak …..” sambil tertawa Pak AB menyampaikan kalimat tersebut.
“Ternyata, dihari terakhir saya mengikuti seminar tersebut ada games dan pembagian doorprize alat elektronik yang cukup lumayan dan …… Alhamdulillah saya menjadi salah satu penerima doorprize tersebut berupa Black Berry keluaran terbaru, padahal selama ini saya jarang sekali dapat hadiah dengan cara seperti itu”
“Selesai menerima hadiah doorprize saya menyesal pak, kenapa bukan saya penerima hadiah utama sebuah AC Split 1 PK karena saya sedang membutuhkan” nampak kekecewaan di raut muka pak AB
“Diatas sepeda motor perjalanan pulang saya menyesali kejadian paginya dan ngegerundel sendiri, kenapa tadi pagi waktu sedekah buat ibu-ibu tua saya nggak memilih yang warna merah yach ? nominal uang terbesar, kalo tadi milih yang warna merah pasti saya tuch yang nerima AC 1 PK”
Pak AB menyudahi ceritanya dengan perasaan menyesal sambil sedikit mengisyaratkan dia nggak akan tanggung-tanggung lagi bersedekah.
Dan beliau berujar betapa nikmatnya menunggu janji Allah, setelah kita bersedekah yang terbaik, sesuai dengan janji Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Hadiid : 11 “Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia”
Agak bergetar hati saya mendengar cerita beliau, karena ibu-ibu tua tersebutpun juga sering lewat didepan rumah saya, kenapa saya nggak mau mencoba seperti pak AB yach ……..
Tangerang, 26 Juli 2011

HAJI KARTUN

Cerita ini dari tetangga yang biasa di sapa Pak Ifoed.  Beliau seorang kartunis dan karikaturis, karya-karyanya sudah sering nampang di majalah dan harian terkemuka ibukota. Sejak di PHK untuk yang ke 2 kalinya, beliau mulai merintis usaha di bidang jasa pembuatan kartun dan karikatur juga desain, semua usahanya dikerjakan dirumahnya yang sederhana.
Cerita tentang keajaiban sedekah bermula ketika sehabis pulang kampung, Pak Ifoed ini merasa sedih sekali karena mendengar cerita dari Ibunya yang sudah janda, tersebar berita di kampungnya bahwa tahun ini akan berangkat haji. Padahal sepeserpun uang untuk biaya haji belum ada. Selama di kampung Pak Ifoed hanya memberi motivasi ibunya untuk berbaik sangka dengan para tetangga, siapa tahu itu juga menjadi doa buat Ibu untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Walaupun Pak Ifoed tahu betapa berat hati Ibunya menanggung beban berita yang santer itu, sungguh sesuatu yang sangat tidak meng-enakan.
Sepulang dari kampung, pak Ifoed mulai melakukan ikhtiar untuk Ibunya. Yang pertama dilakukan dengan membukakan rekening tabungan buat ibunya. Kemudian banyak melakukan sedekah lebih dari biasanya, kalau biasanya cuma Rp. 100.000,- sampai Rp. 200.000,- ditingkatkan sedekahnya menjadi Rp. 1 juta sampai Rp. 2 Juta walaupun harus melalui pengorbanan dengan melakukan penghematan yang cukup banyak dikeluarganya. Dan yang paling membahagiakan Pak Ifoed, isterinya sangat mendukung rencana memberangkatkan Ibu ke Tanah Suci. “Kapan lagi kita akan membahagiakan dan berbakti kepada Ibu, tiada yang tahu umur Ibu sampai kapan” kata pak Ifoed.
Selain sedekah, ikhtiar pak Ifoed yang lain mungkin tidak banyak dilakukan orang, yaitu selama perjalanan dari rumah ke tempat klien manapun beliau selalu berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan dalam mendapatkan dana untuk biaya haji ibunya. Sambil berlinang air mata selama perjalanan ke klien ternyata menurut pak Ifoed sangat ampuh untuk membuat do’anya segera terkabul. “Karena salah satu waktu yang do’anya diijabah Allah adalah ketika kita dalam perjalanan” itu alasan pak Ifoed melakukan do’a diperjalanan. “Orang lain di jalan raya mungkin stress karena macet, saya justru larut dalam do’a dan linangan air mata” imbuh Pak Ifoed.
Alhamdulillah, berkat do’a, ihktiar dan keyakinan Pak Ifoed yang sungguh-sungguh, Allah mulai memberikan titik terangNya. Sebuah NGO dari Jerman memberikan pekerjaan kepada Pak Ifoed yang nilai pekerjaan tersebut luar bisa menurut Pak Ifoed. Karena dari keuntungan pekerjaan tersebut bukan hanya bisa untuk melunasi biaya haji Ibunya yang waktu itu sekitar Rp. 27 juta tapi juga bisa untuk membayar hutang dan melunasi cicilan rumahnya, Subhanallah.
Sesuai dengan janji Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Hadiid : 11 “Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia”
Dan satu hal lagi kejadian yang luar biasa menurut pak Ifoed adalah Allah menggantikan langsung tunai uang yang di berikan ke Ibunya untuk berangkat haji, padahal ibunya masih di tanah air. Allahu Akbar.
Dan Alhamdulillah cerita ini berlanjut ditahun berikutnya Allahpun melimpahkan rezeki kepada keluarga pak Ifoed sehingga diberi kemampuan juga untuk bisa membiayai keberangkatan Ibu Mertua ke Tanah Suci. Lahaulawalakuataillabillah.
Semoga cerita ini bukan menjadi sebuah riya’ dan takabur, namun cerita nyata ini bisa menjadi testimony diri kita semua betapa pentingnya bersedekah dan berbaik sangka kepada Allah SWT.
Jangan pernah sedikitpun meragukan dan mempertanyakan janji Allah SWT

Tangerang, 26 Juli 2011

Sabtu, 19 Februari 2011

Sepuluh menit yang Meyakinkan


Rabu 16 February 2011, saya baru balik kantor dari makan siang di Café Amigos (agak minggir got sedikit) disamping gedung KPK di daerah Kuningan Jakarta.
Ruangan kantor lt 8 juga masih agak sepi , baru sebagian balik dari makan siang seperti aku ketika salah satu temen nyamperin aku trus pamitan, seorang perempuan muda yang baru menikah belum setahun tapi sudah terpisah dari suaminya, “Pak saya mau pamitan, saya mau nyusul suami ke Balikpapan Kalimantan” begitu disampaikannya.
“Trus kamu resign, per kapan ?” tanya saya dengan enteng.
“Akhir bulan ini pak, gimana menurut bapak ?”, jawaban yang disambung dengan pertanyaan.
“Gak ada masalah menurut aku, kamu sudah mengambil keputusan yang cukup tepat” begitu yang saya sampaikan.
“Tapi pak saya jadi agak ragu, karena temen-temen pada nanyain disana mau ngapain nggak ada kesibukan cuma jadi ibu rumah tangga aja ?” sambil menarik kursi duduk di hadapan meja saya.
Loch, sipa bilang kamu nggak ada pekerjaan ? justru pekerjaan paling melelahkan dan nggak ada berhentinya itu ibu rumah tangga, kalo kita karyawan terbatas jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai 17 sore, kalo ibu rumah tangga, bisa dari pagi hingga pagi lagi” begitu aku sampaikan.
“Maksudnya pak, dari pagi hingga pagi lagi gimana ?” sedikit nggak ngerti dia bertanya.
“Ketika kamu sudah menjadi ibu rumah tangga kamu akan bekerja mulai pagi bangun tidur dengan menyapu, ngepel lantai mencuci baju suami, memasak buat sarapan, menyiapkan pakaian yang akan dipakai suami, setelah suami pergi kamu akan beberes rumah yang belum sempat kamu pegang sejak pagi, trus belanja buat masak nanti sore atau besok pagi, agak siang sedikit setrika, belum lagi cukup istirahat ternyata sudah sore persiapan suami pulang kantor, agak malem dikit nemenin suami ngobrol dengan tema yang up todate bahkan tentang pekerjaan suami yang mungkin kamu nggak ngerti secara detail”, begitu saya jelaskan

“Iya sich pak kemarin saya juga merasa nggak enak hati sama suami, saya ambil cuti trus nyusul ke Kalimantan ternyata suami saya bisa melakukan semuanya sendiri, nyuci, setrika, nyiapin baju buat kerja, saya jadi merasa sebagai istri kock nggak ngelayani suami yach”, begitu disampaikannya.

“Nach, kalau temen-temen ngomong seperti yang kamu sampaikan tadi karena mereka suaminya bekerja satu kota, punya pembantu dirumah, mereka nggak merasakan seperti yang kamu rasakan, baru menikah bulan madu nggak lama sudah terpisah karena tugas”

“Saat ini, walaupun tidak sedang ada masalah dengan suami tetapi sebenernya kamu sedang punya masalah, komunikasi kamu tidak lancar, masing-masing kebutuhan rohani kalian tidak terpenuhi. Padahal, kebutuhan itu munculnya sewaktu-waktu, giliran pas suami kamu pulang ke Jakarta kamu pas “dapet”, tetapi lucu juga para perempuan nggak suka kalau suaminya melakukan “swalayan” karena sudah ada istri padahal jajan diluar justru lebih berdosa, belum lagi muncul pertanyaan ‘lagi ngapain yach suami saya sekarang, jangan-jangan ……’, ditambah setiap kamu berkegiatan tidak sepengetahuan dan seijin suami padahal apapun kegiatan yang kamu lakukan harus ada ridlo dari suami, agama kita mengajarkan seperti itu, kalo nggak jangankan surga harumnya bau surga aja kamu nggak dapet – Ridlo suami tuch Ridlo Allah”, panjang saya menjelaskannya, “Iya ya pak” jawabnya pendek.

“Ketika kamu sudah menentukan pilihan berkarier sebagai ibu rumah tangga dan menyusul suami, komunikasi kalian akan terjalin, kamu akan semakin mengerti secara detail kekurangan suami sehingga kalian bisa saling melengkapi karena kalo kelebihan dari kalian pasti sudah diketahui sejak jaman pacaran dulu”,
“Kalian bisa belajar kebiasaan masing-masing yang selama ini nggak pernah kalian ketahui yang mungkin bisa menjadi bahan ribut kecil di rumah tangga kalian contohnya aja cara memencet pasta gigi, kamu terbiasa dengan rapi dari bawah ke atas ternyata suami senengnya langsung sekali tekan, pulang kerja sepatu ditaruh dimana kaos kaki ada dimana, baju kotor dilempar dipojokan kamar padahal sudah ada tempat buat naruhnya jadi keliatan berantakan kamu seharian sudah bersih-bersih rumah”
“Kalo memang masih berpikir kerja, kenapa nggak terpikir untuk bekerja hanya dirumah tidak perlu sebagai orang kantoran semisal dengan melakukan penjualan online sesuatu yang unik di daerah tempat kamu tinggal atau bahkan mencari kegiatan dengan menjadi blogger professional, dari buku yang pernah saya baca, blogger profesionalpun duduk didepan kamputer hampir 8 sampai 9 jam setiap hari, dia melakukan posting content blog, menjawab komentar, melakukan editing, mengajukan proses pembayaran atas iklan yang dipasang di blognya, kamu punya account Facebook, Twitter, Friendster kenapa nggak diaktifkan sebagai media promosi gratis”, terang saya panjang dan lebar.

“Iya ya pak”, jawabnya lirih, “Trima kasih pak, sudah membuat saya yakin dengan keputusan yang saya ambil” pelan, tegas, mantap ucapan itu disampaikannya.
“Pak, sudah jam 14.00 saya sholat Dzuhur dulu yach …” pamitnya sambil beringsut mundur dan bergegas ke mushola .   

Jumat, 18 Februari 2011

Menangis di Taman Raudhah


Malam pertama di Madinah, Pagi itu aku mau mengerjakan sholat shubuh berjama’ah di masjid Nabawi yang merupakan sholat Arbainku yang ke 3 setelah kemarin sholat Maghrib dan Isya’.
Sama seperti jama’ah yang lain karena takut kesiangan dan nggak kebagian tempat, di kamar Maktab kami yang berisi 8 orang sudah bangun sejak jam 2 malam, secara bergiliran kami mandi dan setelah semuanya beres secara bersama-sama kami menuju masjid Nabawi dengan berjalan kaki, sebelum berangkat saya mampir ke kamar istri di maktab yang sama.
Dengan berjalan kaki bersama-sama dan berbondong-bondong kami berjalan bersama menuju masjid Nabawi. Kami berpisah didepan pintu masuk yang memang terpisah antara jamah laki-laki dan perempuan dimana lokasi sholat jamaah laki-laki lebih didepan.
Kami satu rombongan masih berjalan bergerombol memasuki masjid nabawi, karpetnya empuk, bagus, warnanya merah dan sangat luas, lapang, saya tengok sana-sini liat-liat keadaan (dasar orang kampung JJ). Tanpa saya sadari, ternyata satu persatu rombongan kami terpisah mencari tempat sholat yang strategis menurut masing-masing dari kami, hanya tinggal saya dengan bpk.Oerip yang masih tetap berjalan kedepan, kedepan, kedepan sampai akhirnya kami berhenti ketika kami melihat didepan kami sudah tidak ada lagi tempat untuk nyelip dan menjadi salah satu bagian dari Shaf.
Saya melakukan sholat Tahiyatul Masjid, Fajar, Tahajud, Taubat, Hajat rasanya nggak kepingin berhenti saya melakukan sholat saat itu, sambil mengingat sholat sunnah apalagi yang belum saya kerjakan yach….., saya duduk berdua sambil tengok sana-sini dan berdzikir apa aja yang saya tahu dan saya bisa, pokoknya nggak mau kehilangan waktu sedikitpun. Rasanya saya menjadi orang yang rakus beribadah, biarlah namanya juga mumpung di Rumah Allah, jadi tamu Allah, minta apa saja, disamping itu belum tentu ada kesempatan lagi.
Ternyata, saya dan pak Oerip duduk di Shaf ke tiga dari depan, dibawah mihrab imam sepuluh orang sebelah kanannya (Subhanallah….) setelah mengetahui lokasi sholat kami dimana tanpa sengaja saya dan pak Oerip berpandangan dan tanpa terasa air mata kami mengalir dengan deras, kami menangis bersama penuh haru dan rasa syukur.

Ba’da sholat subuh saya dan pak Oerip terkaget-kaget, karena tiba-tiba saja semua orang dari segala arah berlarian menuju sebelah kiri tempat kami duduk sambil melangkahkan kaki lebar-lebar mereka melangkahi kami.
Pada saat kami sedang terbengong-bengong sambil bertatapan “Ada apa pak ?”, tanya saya ke pak Oerip sambil melihat ke arah orang-orang berlarian, “Nggak ngerti mas …”, jawab pak Oerip juga sambil melihat ke arah samping kiri kami.
Kami mendengar beberapa orang mengucapkan Raudhah !, Raudhah !, Raudhah ! dan ……. tanpa dikomando kami berdua langsung berdiri dan ikut berlarian menuju arah dimana orang berlarian sampai akhirnya kami menjadi salah satu dari orang-orang yang berada disitu.
Dengan dijaga secara ketat oleh askar yang cukup tegas kami sholat 2 rokaat di Raudha, saat itu saya sudah tidak ingat apa-apa, yang saya ingat sholat dua rokaat trus menangis sejadi-jadi memohon ampun dan mengajukan semua do’a permintaan buat diri sendiri keluarga dan kerabat, untuk menghindari usiran dari askar karena terlalu lama di Raudhah secara reflek saya bersujud dan berdo’a sambil menangis.
Saat itu rasanya enggan meninggalkan tempat itu, adem, tentrem, ayem, walaupun disekitar terjadi hiruk pikuk orang yang berebut mau melakukan hal yang sama sholat dua rokaat dan berdo’a didalam Raudhah – Subhanallah……..

Setelah selesai kami berjalan keluar dari areal tersebut bergantian dengan jama’ah yang lain, sepanjang jalan pulang ke maktab saya dan pak Oerip menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil, entah apa yang kami tangisi yang jelas yang saya rasakan adalah tangis bahagia karena saya diberikan kesempatan untuk masuk, sholat dan berdo’a di dalam Raudhah pada kesempatan malam pertama di Masjid Nabawi Madinah.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda : "Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) diantara taman-taman surga".

Subhanallah, saya diberikan kesempatan untuk beribadah didalam taman surga – Alhamdulillah ya Allah